Minggu, 20 April 2008

Balada seorang Pengamen

Suara serak dan pas-pasan terdengar mengalun menggema didalam sebuah bis antar kota.
Lirik lagu yang beraneka ragam ditujukan tuk menghibur siapa saja yang mendengar. Dari lirik cinta,kehidupan, kritik dsb. Namun semua tak pernah bisa menggambarkan kehidupan pelantunnya,meski bernyanyi lagu cinta dan diselingi dengan senyuman yang ramah tapi hatinya tak pernah sejalan dengan lirik2nya.
Pengamen,itulah pekerjaan yg harus digelutinya saat ini,pekerjaan yg tak pernah dicita-citakan dari kecil. Padahal waktu kecil dulu yg dicita-citakan mungkin dokter,professor atau bahkan presiden,kenapa semua jadi begini? Pertanyaan itu mungkin yg ada dalam pikirannya saat ini. Seakan dunia ini tak pernah berpihak padanya. Dari bis satu ke bis lain dia jalani kehidupannya, dengan gitar yg lusuh dia mengharap belas kasihan penumpang dengan hanya menjual suara yg pas-pasan. Saat dia turun dari bis dan berjalan dengan gontai menuju pojok pertokoan dekat perempatan dia menghitung uang hasil mengamennya, di pojok pertokoan dia sandarkan tubuhnya sambil menatap dengan kosong ke jalan yg masih ramai itu. Satu keping uang 500 dan empat keping uang 100 rupiah dia dapatkan lewat mengamen barusan. Uang 900 rupiah ini membuat deritanya semakin sempurna,apa yg bisa dilakukan dengan uang 900 rupiah?
Dalam hati dia berusaha tegar dan berharap semua ini akan berubah menjadì kebahagiaan walau dia ragu akan itu. Mungkinkah ini akan berubah?

Tidak ada komentar: